Pindah ke kcrda.blogspot.com | Selamat datang di blog ini. Semoga berguna ^^ Kami tunggu apresiasinya :)

Sabtu, 21 Desember 2013

Hilangnya Jejak Amita - Part 2 END

Hilangnya Jejak Amita
Karya L


                                                                                
picture source: districtdiva.com
Hilangnya Jejak Amita

Kaki-kaki yang lincah berderap cepat layaknya sepatu kuda. Tak peduli panas dan lelah yang menemani, ataupun keramaian orang, kaki-kaki lincah terus berderap demi tujuan yang sebenarnya sudah tidak dapat dipandang mata lagi. Adiknya, ya adik tercinta. Walaupun gadis itu harus rela meninggalkan tugasnya hari ini.


“Huh, di mana sih dia?”, batin Amira.
Sepertinya sudah tidak ada orang yang dapat ditanya lagi. Rasa was-was menghantui pikiran Amira. Takut, jangan sampai ia sendiri terjebak dalam jebakan para penjahat. Amira, yang masih belum cukup dewasa untuk pergi sendiri, bingung harus berbuat apa. Yang ia bisa hanya, berdoa dalam hatinya, semoga semuanya akan baik-baik saja.
***
Tuhan tidak pernah melupakan umat-Nya. Dia selalu mengirim siapapun, bahkan yang tidak kita duga untuk menolong kita. Dan memang benar, keajaiban terjadi pada gadis yang terus memohon padaNya ini.
Seorang pria berjalan ke arah gadis itu. Pria itu bertanya kepada Amira,”Dek, kamu kenapa sedih? Ceritakan masalahmu, mari Bapak bantu.” Seketika itu mata Amira terbuka melihat pakaian yang dikenakan pria itu. Tak diragukan lagi, ia adalah seorang aparat kepolisian.
“Tadi saya berangkat sekolah, saya jalan sama temen. Saya lagi ngobrol-ngobrol sama temen, adek jalan di belakang saya. Saya nggak sadar dia udah jauh banget, Pak. Kirain saya adek udah di depan, nyampe sekolah, ternyata dia malah…”
Amira terisak. Air matanya menetes. Ia sudah tak mampu menyelesaikan ceritanya.
“Ilang ya dek?” tanya polisi itu.
Amira terus menangis, membayangkan apa yang terjadi pada adik tercintanya.
Polisi itu mengerti. Kemudian polisi itu berkata dengan lembut, “ Iya, iya. Nanti kita cari ya Dek. Tenang, Dek. Ayo ikut Bapak ke kantor Bapak.”
Gadis itu mengangguk pelan.
Kemudian bergegaslah mereka menuju kantor polisi.
***
Bangunan itu kecil, sederhana, terlihat menegangkan.
Kemudian polisi itu segera duduk di kursinya, di samping Amira.
“Dek, kamu sekolah di mana?” tanya polisi itu.
“SD Negeri 1.”
“O iya, jadi kamu sudah jalan jauh, kemudian saat kamu menengok ke belakang, adikmu sudah tidak ada?” tanya polisi itu lagi.
“Iya.” jawab Amira lemah.
“Oke, sekarang Bapak telepon sekolah kamu dulu, untuk memastikan apakah adikmu benar-benar hilang. Nanti Bapak kabari kamu. Kamu disini dulu ya,” kata polisi itu.
***
“Dek, adikmu tidak ada di sekolah. Kamu tidak usah khawatir, biar Bapak yang selesaikan semua ini. Boleh saya bertanya beberapa hal?” tanya polisi dengan tegas.
“Iya pak.”
Polisi itu menanyakan beberapa hal kepada anak itu, dengan detil. Anak-anak memang selalu polos dan jujur untuk menjawab semua pertanyaan, itulah yang menimbulkan kepercayaan  polisi terhadap tiap kata yang diucapkan anak itu.
***
“Oke, begini. Bapak tahu, setiap hari kasus penculikan di Bogor ini meningkat. Tetapi, tenang saja Dek, Bapak tahu lokasi sarang penculikan di sini. Biasanya, polisi-polisi lain tidak tahu di mana tempatnya. Tetapi Bapak tinggal di dekat sana, sehingga Bapak tahu. Di belakang Terminal Baranangsiang, itu ada rumah yang isinya para penculik. Anak-anak di sana dipaksa bekerja jadi pengemis, pengamen, atau kadang ada yang dibawa jadi pekerja seks. Adikmu belum terlalu lama di sana. Kamu tahu, mengapa adikmu mau dibawa ke sana? Mereka yang dibawa ke sana selalu dihipnotis. Sehingga mereka ikut begitu saja bersama penculik itu. Ayo kita ke sana, kamu nanti tunggu di rumah saya saja ya.” kata polisi itu, sambil memegang bahu anak itu, dan mengajaknya.
“Nggak papa ya Pak, saya menunggu di rumah Bapak?” tanya gadis ini.
“Iya, supaya kamu aman. Nanti saya bilang ke anak saya, kamu nanti main sama dia sebentar saja, kebetulan dia juga sebaya kok. Lagi libur. Oke?”
“Oke Pak,” kata Amira mantap.
Dengan mobil polisi, Amira dan polisi itu pergi ke sarang penculik. Polisi itu pulang ke rumahnya, mengantar Amira, menitipkannya sebentar, dan kemudian polisi ini datang sebagai seorang tetangga, yang dikenal orang sebagai Pak Rahman.
***
Tok tok tok…
“Ya? Masuk,” suara seorang pria terdengar dari luar, dan pria itu membukakan pintu.
“Oh, Pak Rahman. Mau antar undangan?” tanya pria itu.
“Iya. Boleh saya masuk sebentar?” tanya Pak Rahman.
“Boleh, sebentar ya,” kata pria itu.
Pak Rahman -alias polisi ini- menunggu waktu yang baik untuk beraksi.
Kemudian pria -yang adalah penculik- dan istrinya duduk di ruang tamu, dan berbincang-bincang dengan Pak Rahman.

Setelah beberapa lama…
“Angkat tangan!”
Seisi ruangan kaget mendengar suara yang menggelegar itu, memecah ketenangan yang ada.
“Mau apa Anda dengan kami? Kami tidak salah apa-apa.”
Teman-teman Pak Rahman langsung bergegas datang ke lokasi, sesuai instruksi Pak Rahman di awal. Mereka menghadapi dua penculik ini, dan Pak Rahman segera pergi ke ruang bawah tanah. Untunglah kunci rumah Pak Rahman setipe dengan kunci ruang bawah tanah ini, sehingga kunci ruang itu dapat dibuka. Inilah keunggulan dari Pak Rahman, polisi yang pintar, tanggap, dan sangat tegas, suap apapun tidak mempan untuk melawannya. Polisi ini juga sangat pemurah dan bijaksana. Pantaslah ia diangkat menjadi Kapolres Bogor.
Ia pun membuka kunci ruang itu, dan ia melihat banyak sekali anak-anak yang berada di situ. Setelah dua penculik telah dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa, anak-anak itu berlari mengikuti Pak Rahman ke depan rumahnya. Amira, yang kemudian keluar kaget melihat adiknya yang sepertinya sudah babak belur dipukuli. Ia pun memeluk adiknya dengan penuh cinta.
Lalu Amira berjalan ke arah Pak Rahman.
“Terima kasih, Bapak sudah menyelamatkan banyak anak di sini, termasuk adik saya,” kata Amira dengan tulus.
“Iya, sama-sama Dek. Mau Bapak antar pulang?” tanya Pak Rahman.
“Boleh, boleh Pak. Terima kasih ya Pak,” kata Amira lagi.
Polisi yang bijaksana itu kemudian menelpon kantor polisi lagi dan menyuruh pihak polisi lain mengirim truk ke sana.
Beberapa saat kemudian, truk itu datang, dan anak-anak itu dibawa ke kantor polisi untuk dikembalikan kepada orang tua mereka.
Amira dan Amita, sore itu pun pulang dengan selamat menuju rumah.
Begitu ibu mereka melihat ada polisi di tengah mereka, ibu mereka langsung berbincang-bincang dan berterima kasih kepada polisi itu.
“Nak, kalian saling menjaga ya lain kali. Dan ingat, Tuhan selalu menjaga kita dalam keadaan apapun,” kata ibu dengan bijak. “Nah, siapa yang mau puding? Kalian pasti lapar. Ayo masuk,” ajak ibu.
“Aku, aku,” kata keduanya serempak.
Begitulah, keajaiban selalu terjadi selagi kita berusaha dan berdoa, dan pertolongan Tuhan pasti selalu tepat pada waktunya.

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan dikomentari... ^_^