Pindah ke kcrda.blogspot.com | Selamat datang di blog ini. Semoga berguna ^^ Kami tunggu apresiasinya :)

Jumat, 05 April 2013

SILVERISTA PART 2

Karya R
Silverista
Bel tanda pulang sekolah bernyanyi nyaring. Semuanya langsung membereskan buku. Suara Pak Arvi masih memenuhi kelas.
“ Pokoknya, kalo besok PR ga dibuat, bapak kasih hukuman seberat- beratnya !”
Setelah berdoa, dan si guru killer sudah keluar kelas, Rafa segera melesat. Seisi kelas hanya melongo sejenak, lalu… asik dengan aktifitas masing- masing.
“Ver, si Rafa nungguin lo di taman belakang,” Dynda jadi kurir pos. “Nah, so, lo ke taman bentar , ya? Gue duluan,”
“Hah?” Sejenak Verist berusaha menyesap tiap kata yang terlontar dari bibir kawannya. Yah, akhirnya kakinya yang tadinya bimbang memutuskan untuk menuju taman belakang saja.
Langkah Verist lambat dan malas- malasan. Sampai di taman belakang, ia melihat Rafa yang duduk di bangku taman.
“Ada apa, Raf?” tanya Verist langsung. Verist tipe cewek to the point. Tanpa basa-basi.

“Mmm…” ucap Rafa ragu. “Duduk dulu, yuk,” ajaknya.
“Oke, ada apa?” Verist mengambil tempat di sebelah Rafa. Membuat cowok itu agak gugup.
“E-eh,” gagap Rafa. “Gini… Gue minta lo pura-pura jadi pacar gue,”
“Hah?” Verist bertanya-tanya. “Why?”
“Ah… Jadi, ortu gue mau jodohin gue sama rekan bisnisnya,” kalimat itu yang dipilih Rafa untuk memulai ceritanya. “Sebetulnya bokap gue juga ga minat. Satu-satunya cara untuk nolak perjodohan itu, gue harus punya pacar dalam waktu 3 hari. Aah,” keluh Rafa.
“So, gue putusin pura-pura pacaran aja.” Rafa menghela nafas lalu memandang Verist. Ia mencoba menahan debar jantungnya yang semakin berpacu melihat wajah cantik Verist.
“Hm,” Verist nampak berpikir. “Gue heran, lo kan keren, ganteng lagi. Ngapain coba dijodohin? Padahal yang ngejer lo segudang, ck ck ck,” Verist menggeleng-gelengkan kepala. Rafa hanya mengangkat kedua bahunya, memendang paras ayu Verist yang kembali membuatnya berdebar. Duh, masa gue naksir itu cewek sih… keluhnya dalam batin.
“Yah… Gimana ya?”
“Please. Cuma untuk 3 hari… Abis itu, mau lo tetep pura-pura jadi pacar gue, atau karna udah ada cowok yang lo suka lo mau pergi, silakan…” bujuk Rafa.
“Hm,” Verist tampak cool. “Yeah, okey, gue kasian sama lo, so… Gue setuju.”
“Serius?” Rafa menatap biji mata Verist.
“ Yey!” Ia bersorak. Tanpa sadar memeluk Verist.
“Ehem,”
“Eh, sory,” Rafa melepaskan pelukannya dengan semu merah di pipi akibat malu. Verist tertawa kecil. Diam-diam ia memandangi Verist yang sedang tertawa. Cantik, batinnya.
“Kenapa?” Verist memergoki Rafa menatapnya. Rafa gelegapan, tanpa sadar ia berkata, “ Lo cantik,”
Ups! Verist kembali tertawa. Ia menggeleng-gelengkan kepala.Rambut lurusnya yang dikuncir kuda bergoyang seirama.
“Ya…” Verist menganggukkan kepala. “Udah kan? Gue pulang dulu, ya,”
Rafa mengiyakan. Ia menatap Verist dari kejauhan. “Kalo dia udah jatuh cinta sama gue, bakal gue jadiin pacar beneran, gumam Rafa.
***
2 hari kemudian.
“Ver, lo siap-siap ya, gue jemput. Ngenalin lo ke ortu gue,”
“Hah? Verist menelan ludah. “Hari ini?”
“Ya, cepet! Gue jemput lo!”
Entah mengapa rasanya Verist mulai jatuh cinta pada Rafa. Jantungnya berdetak tak karuan sewaktu berada di dekat Rafa.
“Verist! Kamu siap-siap ya! Keluarga kita mau ketemu rekan bisnis, kamu harus ikut!”
“APA!? teriak Verist, kaget. “AKU ADA ACARA MA!”
“Ga mau tau, kamu siap-siap!”
Ucapan ibunya sudah tidak bisa diganggu gugat. Buru-buru ia menelepon Rafa.
“Raf! Sori banget gue ada kepentingan mendadak! Kata nyokap gue penting banget! Sori!”
“Jadi… Lo ga bisa pergi?”
“Iya, sori!”
“Ah, gimana dong?!”
“Sori, ya… Sori…” menutupi rasa bersalah, Verist langsung memutus telepon.
***
Verist POV
Rasanya aku lama dekat dengannya… Begitu dekat hatiku tak terkontrol lagi… Aish, ada apa denganku?
Aku dan ortuku menuju tempat untuk menyelesaikan urusan yang katanya “penting” itu.
Ya… aku lebih suka membantu Rafa, sebenarnya. Tapi… jika takdir yang bicara… raksasa terbesar sekalipun tak dapat menyangkalnya.
Verist POV End
 ***
General POV
Gaun putih polos yang berhiaskan bunga-bunga pita itu nampak cocok sekali dipakai Verist. Riasan wajahnya yang sederhana saja seolah menambah aura cantiknya. Hanya lip gloss saja, tapi setiap orang seolah tak mampu mengalih pandangkan wajah mereka dari paras Verist : Mata indah, bibir tipis, hidung mancung. Tetapi paras ayunya hanya ditundukkan. Mata beningnya menatap lantai.
***
“Oke, mari kita mulai perjodohan ini !”
“Perjodohan?!” Verist terkejut.
“Ini putriku, Verista. Mana Vito?”
“Oh, dia sedang ke toilet,” jawab rekan bisnis ayah Verist.
Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba matanya beradu dengan wajah yang tak asing baginya…
“Rafa!?”
“Verist?!”
“Kalian sudah kenal?” tanya ayah Rafa heran.
“Dia kan pacarku, pa!” ucap Rafa yang seketika membuat Verist membeku.
“Kebetulan ! “ kedua ayah itu berseru.
“Jadi, kapan tanggal pertunangannya?”
“Uhuk!” Verist. Rafa batuk bersamaan.
***
Rafa POV
Aku bahagia sekali. Inikah jatuh cinta? Aku merindukan wajah ayunya, sikapnya. Padahal baru sejam lalu kami bertemu! Aku benar-benar jatuh cinta.
Rafa POV End
***
General POV
Verist termenung. Pacar?! Gue pacar dia?
Tanggal pertunangannya satu bulan lagi. Aish. Cepat sekali! Apa yang harus setiba-tiba ini?
***
Langkah Verist jauh lebih malas dari biasanya. Ia malas ke kelas. Tasnya terasa jauh lebih berat. Tak punya pilihan, ia melangkah ke kelasnya, X-2.
“Verist!” Dynda langsung menariknya keluar kelas ke taman belakang. “Lo beneran jadian ama sepupu gue?”
Verist menceritakan semuanya pada sahabatnya, termasuk ia dijodohkan. Yah, untung taman belakang sepi, tiada orang selain mereka.
“Apa?!” Dynda terkejut.
“Trus gue harus bilang gimana Dyn… Ahk…”
“Mau gimana lagi… Ya lo Cuma bisa pasrah,”
“Masalahnya gue belom mau pacaran, apalagi tunangan,”
“Gue bilang, ga ada pilihan lain selain pasrah, Ver,”
“Akh…” desah Verist putus asa.”
“Tenang, sepupu gue baik kok,” ucap Dynda yang langsung terjitak.
***
Verist POV
Sebenarnya bukan itu alasanku menolak perjodohan konyol ini. Bukan belum mau pacaran, tapi … Aku menunggu seseorang.
Seorang cinta pertamaku. Kalian tau istilah sahabat menjadi cinta? Itulah yang terjadi padaku. Tapi aku juga entahlah, siapa nama cinta pertamaku!
Bagaimana aku bisa lupa?
Aku juga tidak tahu. Dugaan terkuatku adalah akibat terjatuh dari tangga. Tidak pernah diperiksakan, sih.
Wajahnya juga samar di ingatanku. Hanya, aku merindukannya. Amat merindukannya.
Verist POV End
***
General POV
Hari Pertunangan
Ohno, keluh Verist. Ini benar-benar bencana. Bagaimana ini?
Saat itu ia teringat dua kata = move on.
Ya, move on. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
***
Seminggu berlalu sejak pertunangan itu. Dan Verist justru semakin cuek dengan Rafa. Dan Rafa makin cinta dengan Verist. Ck, ck, ck, terbalik.
Dynda berkali-kali menasehati Verist, namun sepertinya tidak mempan. Sungguh kasihan.
***
Matahari muncul malu-malu dari balik tirai. Membuat Verist terbangun.
“Hah?! Jam 7 ?!”
Buru-buru ia mandi dan berpakaian, lalu menaiki tangga dengan buru-buru. Akibatnya…
“Bruk!!!”
Ia terjatuh lagi. Seketika bagaikan roll film berputar di otaknya, ia mengingat segalanya seperti sediakala.
“Vi… Vito…”
Verist mengucapkan nama sahabat masa kecilnya. Wajah sahabatnya sekilas muncul di pikirannya.
“Raf… Rafa…”
***
Verist POV
Jadi… Vito itu Rafa dan Rafa itu Vito?
Ya ampun. Tolong Tuhan…
Verist POV end
***
General POV
Sampai di sekolah. Verist langsung melangkah ke kelasnya. Dilihatnya Rafa sudah datang.
Ia menyeret kakinya menuju bangku.
“Hai, Ver,” sapa Rafa.
“Hai,” balas Verist canggung. Rafa terbelalak tak percaya, Verist membalas sapaannya.
“Eh, Raf,” lanjut Verist. “Em… nama kecil lo Vito bukan?”
“Mm… iya,” jawabnya. “Kenapa?”
“Mmmm… ki-kita pernah bersahabat ya waktu kecil?”
“Tunggu…” Rafa mengingat-ingat “Eris…”
“Nama kecil gue,” gumam Verist.
“Berarti lo Eris?”
“Iya…” jawab Verist. “Lo Vito?”
“Ya…”
Hening.
“Ah, gue ga nyangka ketemu lagi sama lo.” ucap Verist.
***
Taman belakang
“Gue… pengen ngomong sesuatu… yang ada sejak du-dulu,”
“Apa?”
“Dari kecil… Gue tuh udah suka sama lo.”
“S-sama dong!” jawab Verist spontan, lalu ia menutup mulutnya.
“Benar?” mata Rafa berbinar.
“E-eh,” Verist canggung.
“Thanks God,” ucap Rafa menengadah. “So?”
“So?” tanya Verist balik.
“Lo jangan cuek-cuek gitu dong ama gue…” Rafa menggenggam tangan Verist. Dilihatnya warna pipi Verist memerah.
“Ih, lo lucu banget,” Rafa mencubit pipi Verist.
“Gue inget, dulu gue sering banget nyubitin pipi lo,” ucap Rafa.
“Iya, terus gara-gara lo gue nangis,” mereka terhanyut dalam nostalgia.
“Hehe… Iya. Dan satu-satunya cara biar lo berenti nangis cuma ngasih lo benda berwarna perak. Ck ck,”
“Masih inget aja lo!”
“Iya dong…”
Tanpa diduga, kemudian Rafa mengecup pipi Verist cepat. Wajah Verist langung berubah sewarna tomat.
“Aish… Lihat, muka lo merah gitu… Haha,” ledek Rafa.
“Sial lo,” Verist menyodok punggung Rafa.
“Haha.Tapi bagaimanapun,” Rafa mendekatkan wajah ke telinga Verist. “Gue sayang sama lo,”
Pipi Verist berubah merah.
THE END
NOTE:
Halo semua! Ini dia, setelah sekian lama rehat dari mengetik Silverista, akhirnya salah satu pengurus yang paling rajin diantara kami (bukan saya) memutuskan dengan rela mengetik.

Thanks for reading, all! Seperti biasa, komentar sangat diharapkan untuk meningkatkan kemajuan blog.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan dikomentari... ^_^